Rum – Lahmudin Dipersimpangan Tepat Janji Atau Ingkar Janji

Ahmad R Bakari

Oleh : Ahmad R Bakari (Kadi)

Erapena.com, Opini– Janji politik tidak boleh berakhir sebagai sekadar slogan kampanye. Itulah pesan penting yang harus diingat Rum Pagau dan Lahmudin Hambali setelah kembali diberi mandat rakyat. Amanah kepemimpinan bukanlah hadiah, melainkan kontrak moral yang mengikat. Dan kontrak itu sederhana: rakyat memberi kepercayaan, pemimpin wajib menepati janji.

Sayangnya, pengalaman di banyak daerah menunjukkan betapa seringnya janji hanya berhenti di baliho, panggung kampanye, atau pidato yang penuh semangat. Setelah kursi empuk diduduki, rakyat kembali ditinggalkan dalam antrean panjang masalah yang tak kunjung selesai. Rum Pagau tidak boleh terjebak dalam jebakan klasik ini.

TPP: Tolak Ukur Kepedulian pada ASN

Salah satu janji yang paling kuat menggema adalah soal Tambahan Penghasilan Pegawai (TPP). Bagi sebagian orang, TPP dianggap hanya soal tambahan gaji, tetapi sesungguhnya lebih dari itu.

TPP adalah ukuran kepedulian pemimpin terhadap ujung tombak birokrasi: aparatur sipil negara. ASN yang sejahtera akan lebih bersemangat melayani masyarakat. Sebaliknya, ASN yang dibiarkan dengan keresahan finansial hanya akan melahirkan pelayanan publik yang setengah hati.

Jika Rum Pagau ingin birokrasi yang profesional dan berdedikasi, maka janji TPP harus diprioritaskan. Bukan ditunda, bukan dipotong, bukan dikurangi, bukan pula dijadikan bahan tawar-menawar politik.

Pertanian: Jantung Ekonomi Rakyat

Lebih dari separuh rakyat di daerah ini hidup dari Pertanian, kebun, dan ladang. Pertanian adalah jantung ekonomi yang berdetak setiap hari. Tetapi sampai hari ini, masalah klasik tak pernah selesai. pupuk bersubsidi yang langka, harga komoditas yang tidak stabil, hingga minimnya akses teknologi dan pasar.

Rum Pagau berulang kali menyebut pertanian sebagai prioritas. Maka, sekaranglah waktunya membuktikan. Tanpa pertanian yang kuat, janji menyejahterakan rakyat hanyalah pepesan kosong. Petani tidak butuh kata-kata manis, mereka butuh pupuk tersedia, harga panen yang layak, dan kebijakan yang berpihak.

Infrastruktur: Jalan Menuju Keadilan Pembangunan

Janji lain yang tak kalah penting adalah pembangunan infrastruktur. Jalan yang rusak, jembatan yang rapuh, irigasi yang terbengkalai, dan fasilitas publik yang minim masih menjadi pemandangan sehari-hari. Infrastruktur bukan sekadar proyek fisik, tetapi fondasi pemerataan ekonomi. Tanpa infrastruktur yang baik, hasil pertanian tak bisa terdistribusi, akses pendidikan dan kesehatan terhambat, dan investasi sulit masuk.

Lihatlah betapa akses menuju Paguyaman Pantai, Tangga Barito sampai Wonosari hingga kini belum tersentuh. Pembangunan infrastruktur tidak boleh hanya terpusat di wilayah perkotaan. Keadilan pembangunan baru bisa dirasakan bila desa-desa terpencil juga mendapatkan perhatian.

Menepati Janji atau Menjadi Ingkar?

Sejarah kepemimpinan Rum Pagau akan ditentukan oleh pilihannya, apakah ia akan dikenang sebagai pemimpin yang menepati janji, atau sekadar menambah daftar panjang politisi yang mengingkarinya. Rakyat kini lebih kritis, lebih berani bersuara, dan lebih cepat menilai. Era digital membuat setiap janji mudah direkam, setiap ingkaran cepat disebarkan.

Rakyat tidak menuntut semua masalah selesai dalam sekejap. Yang mereka butuhkan adalah keseriusan, transparansi, dan bukti nyata. Seberat apa pun tantangan, pemimpin yang jujur dan konsisten akan selalu mendapat ruang di hati rakyat.

Amanah Tidak untuk Dikhianati

Kepemimpinan bukanlah panggung pencitraan. Ia adalah amanah yang lahir dari suara rakyat. Karena itu, Rum Pagau harus berani fokus pada janji-janji pokok,TPP, pertanian, dan infrastruktur. Inilah program yang ditagih publik, inilah komitmen yang harus diwujudkan.

Sejarah akan mencatat bukan seberapa sering Rum Pagau berbicara di depan kamera, tetapi seberapa jauh ia menepati kata-katanya sendiri. Dan redaksi percaya, rakyat tidak akan pernah lupa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *