Bayang-Bayang Tambang, Wonosari Terancam Darurat Malaria

Erapena.com- Ancaman malaria di Kecamatan Wonosari Kabupaten Boalemo, Provinsi Gorontalo kian nyata dan mengkhawatirkan.

Data terbaru menunjukkan, mayoritas penderita justru berasal dari kawasan pertambangan serta para pekerja tambang itu sendiri.

Salah satu tenaga kesehatan Puskesmas Bongo II Surmiah selaku penanggung jawab program malaria, mengungkapkan bahwa sepanjang Januari hingga Maret 2026 tercatat sebanyak 74 kasus malaria.

“Sebagian besar kasus berasal dari aktivitas tambang. Kebanyakan penderita adalah masyarakat penambang,” ujarnya.

Surmiah juga menambahkan, wilayah dengan kontribusi kasus tertinggi berasal dari Sari Tani dan Pohuwato, dua kawasan yang dikenal memiliki aktivitas pertambangan cukup intens.

Jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya, tren ini patut diwaspadai. Sebab, Pada tahun 2025, total kasus malaria mencapai 122 kasus, untuk tahun ini pihak kesehatan belum dapat memberikan proyeksi pasti karena masih dalam periode berjalan.

Meski demikian, peningkatan kasus dalam tiga bulan pertama sudah cukup menjadi alarm dini.

Jika kondisi ini terus dibiarkan, bukan tidak mungkin Wonosari akan menghadapi status darurat malaria.

Situasi ini pun memunculkan pertanyaan serius di mana peran dan pengawasan dari pihak berwenang?

Di satu sisi, aktivitas tambang menjadi sumber penghidupan bagi sebagian masyarakat. Namun di sisi lain, dampak kesehatan yang ditimbulkan mulai menunjukkan konsekuensi nyata dan mengancam keselamatan masyarakat.

Wonosari kini berada di persimpangan antara kepentingan ekonomi dan keselamatan kesehatan masyarakat.

Tanpa langkah tegas, pengawasan ketat, serta transparansi dari pihak terkait, potensi meluasnya wabah malaria bukan lagi sekadar kemungkinan, melainkan ancaman yang tinggal menunggu waktu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *